Rabu, 28 November 2012

PUISI TUGAS AKHIR BAHASA INDONESIA


SMA KRISTEN 2 BINSUS TOMOHON
PUISI
Karya dari :

EMANUELLE PELEALU
XII IPA 1






Melodi indah kasihMu padaku

Tibalah hari itu
terdengar suara tangisan bayi
 dalam sebuah palungan yang sederhana
Sang  Juruslamat yang t’lah lahir

Bintang timur pun menampakan diri
Menjadi tanda keberadaan sang Juruslamat
Manusia mencari, mencari keberadaanMu
Berusaha mencari kebenaran itu berada
Mencari keselamatan yang pasti

Dia yang datang
Membawa sejuta janji abadi bagi umat manusia
Janji keselamatan yang tak berkesudahan
Janji kedamaian yang menyatukan semua orang

Nama yang begitu indah terdengar
Nama yang mempunyai sejuta makna bagi kita manusia
Nama yang indah , agung dan mulia
YESUS , sosok yang selalu dihatiku

Sosok yang agung dan mulia
Namun selalu hidup dalam kesederhanaan
Menopang kita umat manusia dengan segala ketulusan-Nya


Ada di sampingku disaat ku sedih
Saat ku patah hati dengan dunia ini
Saat aku terpuruk dalam kesedihan
Dia, Dia yang s’lalu bersamaku
Tak pernah membiarkanku sendiri

Mengorbankan segenap jiwa dan raganya
Rela meninggalakan kerajaan-Nya yang megah
Datang ke dunia yang fana hanya untuk kita
Manusia yang berdosa ini

Meninggalkan segala kemegahannya di sana
Hidup di dunia dalam keadaan apapun
Memberkati banyak orang meski terkadang
Di hina , di benci bahkan di asingkan oleh orang – orang

Kau membiarkan diri-Mu di caci maki,
Engkau membiarkan diri-Mu di siksa
Bahkan engkau mau disalibkan oleh orang – orang berdosa itu
Hanya untuk menebus semua kesalahanku


Tapi, apa? Apa ?
Apa balasanku sebagai umatMu
Apakah aku sudah berada di jalan Mu?
Tuhan, ampuni aku manusia yang berdosa ini
Aku tak pernah menghargai bahkan melihat kasihMu
Kasih yang begitu besar bagi kehidupanku

Aku membutuhkanMu di saatku susah
Tapi tak pernahku melihatMu di saatku senang
Dunia ini, mebuatku lupa
Lupa dengan segala perbuatanMu dalam kehidupanku


Namun, aku tak habis pikir kasihMu tetap ada untukku
Tak pernah hilang hanya karna dosaku yang tertumpuk
Selalu ada di manapun dan dalam keadaan apapun

Tak dapat ku berkata – kata lagi
Semuanya telah Engkau berikan bagiku
Terima kasih , terima kasih Yesus
Tak ingin ku kehilangan sahabat sepertiMu
Sahabat terbaikku, yang tak hanya ada di saat ku senang
Sahabat yang menegurku dalam kesalaanku

Kebaikan-MU dan pengorbanan-Mu tak pernah berkesudahan
Bagaikan air yang mengalir
Kasih-Mu dalam kehidupanku
Tak dapat kubayangkan hidup ini tanpa Engkau, YESUS







TOKOH-TOKOH PADA ORDE LAMA & ORDE BARU


TOKOH-TOKOH PADA   ORDE LAMA & ORDE BARU
SEJARAH
















EMANUELLE PELEALU
XII IPA 1



TOKOH PADA ORDE LAMA
1.     Mohammad Natsir







Mohammad Natsir (lahir di Alahan Panjang Lembah Gumanti, kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908– meninggal di Jakarta 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun) adalah perdana menteri Indonesia, pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Natsir lahir dan dibesarkan di Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan kemudian mempelajari ilmu Islam secara luas di perguruan tinggi. Ia terjun ke dunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai politik berideologi Islam. Pada 5 September 1950, ia diangkat sebagai perdana menteri Indonesia kelima. Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.  Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Mohammad Natsir Perdana Menteri Indonesia ke-5 Masa jabatan 5 September 1950– 26 April 1951 Presiden Soekarno Didahului oleh Abdoel Halim Digantikan oleh Sukiman Wirjosandjojo Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ke-2 Masa jabatan 12 Maret 1946 – 26 Juni1947 Presiden Soekarno Didahului oleh Amir Sjarifuddin Digantikan oleh Setiadi Masa jabatan 29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949 Presiden Soekarno Didahului oleh Sjahbudin Latif Digantikan oleh Syafruddin Prawiranegara Informasi pribadi Lahir 17 Juli1908 Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, Hindia Belanda Meninggal 6 Februari 1993 (umur 84) Jakarta, Indonesia Kebangsaan Indonesia Partai politik Masyumi Profesi Politik.


2.     Abdurrahman Wahid









Abdurrahman Wahid lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dhakhil, dari  maknanya, “ad-Dhakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil K.H. A. Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah membawa kejayaan Islam di Spanyol selama berabad-abad. Setelah menamatkan sekolah di SMEP Yogya pada tahun 1957, Gus Dur pindah ke Magelang di Pesantren Tegalrejo di bawah asuhan kiai karismatik, kiai Khudori, dari sinilah Gus Dur mempelajari secara penuh dunia pesantren berserta keilmuannya.
Pada saat yang sama, selama dua tahun Gus Dur juga belajar paro waktu di Pesantren Denanyar Jombang di bawah bimbingan kakeknya dari pihak ibu, Kiai Bisri Syansuri.setelah itu Gus Dur melanjutkan ke pondok Pesantren Tambak Beras, di bawah asuhan Kiai Wahab Hasbullah, dari pesantren ini hubungan Gus Dur dan Kiai Wahab Hasbullah sangat kental, sehingga Ia mendapat dorongan untuk berproses dalam tahap belajar mengajar, bahkan Gus Dur pernah menjadi kepala madrasah Modern.


3.     YAP THIAM HIEN
Lahir di Banda Aceh, 25 Mei 1913 dengan berperawakan yang kecil ramping ini pada masa Orde Lama, misalnya, ia sangat keras menghimbau dalam pembebasan Moh. Natsir, Moh. Roem, Mochtar Lubis, St. Sjahrir, Subadio Sastrosatomo, dan H. Princen, yang masuk tahanan politik. Tetapi setelah Orde Lama tumbang, ia malah membela para tokoh rezim yang tenggelam itu. Kini bagi Dr. Yap Thiam Hien, S.H., bidang pengacara bukan sekadar profesi. ''Sudah menjadi hobi,'' katanya. Sebagai pembela ternama, bayarannya memang mahal, tetapi tidak jarang juga ia memberikan pelayanan gratis. Sedangkan jiwa gurunya sudah mendalam, ia turut mengajar di kursus Peradin. Sebagai advokat, ia tidak pernah memilih-milih klien untuk dibela. Sejak aktif sebagai advokat tahun 1948, ia selalu melayani kepentingan masyarakat dari semua lapisan tanpa kenal lelah. Hampir setiap perkara yang ditanganinya sarat dengan isu-isu yang bersangkutan dengan hak asasi manusia, prinsip-prinsip negara hukum dan keadilan. Ia tak pernah takut berhadapan dengan kekuasaan walaupun risikonya bisa menyulitkan dirinya, ditahan dan dipenjara.


4.      Burhanuddin Harahap


 







Burhanuddin Harahap (ejaan lama: Boerhanoeddin Harahap) (lahir di Medan, Sumatera Utara 1917 - Jakarta, 14 Juni 1987) adalah Perdana Menteri Indonesia ke-9 yang bersama Kabinet Burhanuddin Harahap memerintah antara 12 Agustus 1955 sampai 24 Maret 1956 Burhanuddin menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dia bergabung dengan Partai Masyumi pada tahun 1946 dan kemudian diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRS RI. Ia meninggal di RS Jantung Harapan Kita dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.
Perdana Menteri Indonesia ke-9
Masa jabatan 11 Agustus 1955 – 20 Maret 1956
Presiden Soekarno
Pendahulu Ali Sastroamidjojo
Pengganti Ali Sastroamidjojo
Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-9
Masa jabatan 12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956
Presiden Soekarno
Pendahulu Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Lahir 27 Desember 1917 Medan, Sumatra Utara, Hindia Belanda
Meninggal 14 Juni 1987 (umur 69) Jakarta, Indonesia

5.     Hasyim Djalal




 






                       Hasyim Djalal (lahir di Ampek Angkek, Bukittinggi Sumatera Barat, 25 Februari 1934; umur 78 tahun) merupakan diplomat Indonesia dan ahli hukum laut internasional. Anak keduanya, Dino Patti Djalal, meneruskan jejak hidupnya sebagai diplomat ulung. Sejak tahun 2010 Dino Patti Djalall menjabat sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Amerika Serikat. Karier Hasyim cukup cemerlang. Dia pernah menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk PBB (1981-1983), duta besar di Kanada (1983-1985), duta besar di Jerman (1990-1993), serta duta besar keliling pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan BJ Habibie. Hasyim juga dipercaya untuk duduk sebagai anggota dewan maritim Indonesia, penasehat senior menteri kelautan dan perikanan, dan penasehat kepala staf TNI Angkatan Laut serta di kantor Menteri Percepatan Pembangunan Indonesia Timur.Penulis buku Indonesian Struggle for the Law of the Sea (1979) dan Indonesia and the Law of the Sea (1995) serta Preventive Diplomacy in Southeast Asia: Lesson Learned (2003). Setelah pensiun tahun 1994, dia masih aktif menulis buku dan artikel di berbagai media serta berbicara di berbagai forum tentang masalah hukum laut internasional. Juga masih sibuk melayani kontak dari kolega-kolega internasionalnya.




TOKOH PADA ORDE BARU
1.     Soeharto



 








                Soeharto presiden kedua Indonesia lahir pada 8 Juni 1921, di sebuah dusun yamg ada di Sedayu , Kabupaten Bantul, Yogyakarta.  Karier Soeharto menjelit sejak sukses membongkar aksi PKI menggulingkan Soekarno serta menculik jenderal-jenderal TNI Ad Jakarta dan Yogyakarta. Setelah Orde lama berakhir pada 12 Maret 1967 , Soeharto dilantik menjadi pejabat presiden guna menggantikan Soekarno yang lengser karena sakit. Setahun kemudian atas perintah MPR , Soeharto dilantik menjadi presiden kedua Indonesia.  Setelah resmi menjadi presiden Indonesia, pak HArto merencanakan pembangunan lima tahun atau Pelita I. Wakil Presiden pada waktu itu adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pembangunan di masa pak Harto lebih ditekankan pada swasembada pangan dan pembangunan infrastruktur dalam pertanian.   Pak Soeharto sukses memakmurkan rakyatnya dengan program swasembada pangan dan Keluarga Berencana atau KB. Poplasi penduduk berhasil ditekan dan pendidikan dsar dijadikan pendidikan wajib.  Namun di sisi lain , kebebasan pers dikekan pada masa pemerintahannya. Kebebasan pers dikekang selama 35 tahun sehingga terjadi KKN dalam birokrasi pemerintahan Indonesia. Maka Soeharto diturunkan dari jabatannya oleh kekuatan masyarakat pada tahun 1998.


2.     Adam Malik


 








            Adam Malik merupakan seorang warga Negara yang berhasil menghilangkan nilai tawar Indonesia di mata Negara-negara lain. Adam Malik lahir pada 22 Juli 1917 di Pematang Siantar, Sumatera Utara.  Awal karier Adam Malik di mulai pada saat dia menjadi jurnalis dan sering mengikuti kegiatan – kegiatan menuju kemerdekaan bersama para pemuda. Perjuangan Adam MAlik ditulis dalam sebuah bentuk tulisan. Adam Malik turut merintis Antara,  kantor berita nasional. Adam Malik aktif dalam kegiatan menuju kemerdeklaan, salah satunya dia bersama para pemuda melakukan penculikan kepasa Soekarono-Hatta ke Rengasdengklok. Adam Malik juga terjun ke dalam dunia politik dan menjabat sebagai ketua Partai Gerindo Pematar Siantar. Karier politiknya membawa dia menjadi tokoh politik Indonesia. Di cabinet Soeharto, Adam MAlik menjadi menteri luar negri. Dan kemudian I diangkat menjadi wakil presiden ketiga setelah Sri Sultan Hamengkubuwono.




3.     Sri Sultan Hamengkubuwono IX



 








          Sri Sultan merupakan orang yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia. Ia adalah orang  pertama yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Sri Sultan memberikan dana pribadinya untuk membayar para tentara Indonesia dan memberikan sebuah ruangan kosong di keratin utnutk menjadi tempat persembunyian tentara Indonesia dari Belanda. Ketika pemerintahan Soeharto, Sri Sultan di angkat menjadi wakil presiden kedua setelah Hatta. Sebelumnya , Sri Sultan adalah Menteri Utama Bidang Ekonomi dan Keuangan. Setelah turun dari jabatannya Sri Sultan menjadi Gubernur di daerah Istimewa Yogyakarta sampai akhir khayatnya, Sri Sultan meninggal di Amerika Serikat pada 1998 pada saat pengobatan dan dikuburkan di Imogiri.



4.     Ali Murtopo


 









            Ali Murtopo ladir pada 23 September 1924 di Blora, Jawa Tengah.  Semasa hidupnya, Ali Murtopo menjadi tangan kananya Soeharto dalam mengurusi politik, telik sandi maupun stabilitas dalam negri. Ali Murtopo memulai kariernya sejak bergabung BKR. Setelah TNI terbentuk , Ali Murtopo bertugas di Kodam Diponegoro , Jawa Tengah. Tugas operasi lapangannya antara lain adalah operasi pembasmian oemberontakan Darul Islam, pimpinan Kartusuwiryo, operasi intelijen pemberontakan PKI. Dalam Kabinet Soeharto, Ali Murtopo menduduki sebagai Mentri Penerangan Indonesia. Tapi sebelumnya, dia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Badan Koordinasi  Intelijen Negara. Ali Murtopo merupakan orang yang berjasa membangun unstitusi intilijen modern di Indonesia.  Dia adalah tokoh politik INdonesai baik di depan atu nelakang panggung.





XII Genious! I Love U

SMA! memang sesuatu yang menjadi sesuatu banget di tengah - tengah anak - anak remaja sekarang. Why? SMA is a fun edu i ever have, haha. Aku suka skali dengan masa SMA ku. Masa SMA memang masa yang paling asik. Banyak teman, kisah cinta yang membara-bara, pertemanan yang sangat erat juga banyak masalah-masalah yang pasti dihadapin. Aku sekolah di sekolah yang berasrama sekarang. WOW! awalnya memang tidak mengenakan namun setelah dijalani sampai aku sekarang kelas 3, mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga. All things is about Togetherness. Di asramaku kebersamaan adalah hal yang mutlak dan kudu harus ada diantara kami. Setiap hari bertemu dengan orang-orang yang sama , memang membosankan tapi kalau nggak ketemu pasti bikin nagnenin berat!! hahahaha. Kelas ku sekarang adalah XII IPA 1. Kelas yang menurut aku didalamnya banyak keragaman yang sangat banyak. Kami datang dari banyak daerah yang berbeda. Karakters yang juga berbeda-beda. Kalo nama gaulnya, XII IPA 1 = XII Genious. Katanya orang - orang didalamnya juga orang jenius sama kaya nama kelasnya. Hahahahaha!!!
Mungkin ceritaku ini , just ordinary story. Tapi, inilah kehidupan yang aku jalanin sekarang. Penuh dengan banyak pelajaran. So, don't ever bored to say YES in every condition you have and always keep smile!!!!

Rabu, 07 November 2012

Cerpen - Untuk Apa Sahabat Itu ?


Untuk Apa Sahabat Itu ?


“ Terserah kamu deh!” Itulah kalimat yang diucapkan Josh ketika Citra teman baiknya bersikeras untuk tetap melanjutkan hubungannya dengan Ben yang notabene tidak seiman dengan mereka. Josh yang adalah teman baik Citra, merasa kesal melihat kekeras – kepalaann Citra sekalligus kecewa dengan tindakan Citra. Kenapa Citra tetap melakukan hal tersebut di saat dia sudah mengerti tentang firman Tuhan.
Sejak saat itu, Josh tidak pernah lagi bersama – sama dengan Citra. Kalau biasanya Josh repot-repot memutar balik untuk menjemput Citra, sekarang Josh tidak perlu repot - repot lagi untuk memutar balik menjemput Citra. Kalau biasanya dimana ada Josh disitu ada Citra, sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Di kantin pun Josh berpura – pura tidak melihat Citra, yang sekarang  semakin dekat saja dengan Ben. Teman – teman mereka bukannya tidak menyadari hal itu, tetapi mungkin  memilih untuk tidak ikut campur dengan masalah mereka berdua. Orang tua Josh terutama tante Sintha, Mama dari Josh juga heran dengan keadaan Josh saat ini dan belakangan ini bertanya “Jo, Citra mana? Kenapa tidak pernah main di rumah kita lagi? Kemarin mamanya Citra juga nanya ke mama, kenapa kamu tidak pernah lagi main kerumahnya Citra?”  Pertanyaan – pertanyaan itu yang membuat Josh kebingungan untuk menjawab.             Josh bingung untuk menjawab semua pertanyaan mamanya. Josh berpura – pura memainkan game yang ada pada laptopnya agar tidak perlu menjawab pertanyaan mamanya. Namun , mama tidak membiarkan Josh begitu saja. Mama tau , pasti ada sesuatu yang terjadi antara Josh dan Citra. “Josh!” seru mama memperkeras suaranya. “Oh iya,  mama masak apa hari ini? Josh udah kangen nih sama masakan buatan mama?” Tanya Josh mencoba mengalihkan pembicaraan.  “ Josh, kamu ini, bukannya tadi mama baru masakin makanan kesukaan kamu. Kenapa sekarang udah minta lagi?” sahut mama dengan nada kebingungan. Josh terdiam mendengar perkataan mamanya. Josh kebingungan harus berkata apa lagi untuk menghentikan pertanyaan – pertanyaan mamanya mengenai Citra.
“ Josh, mama nanya kenapa Citra belakangan ini ngggak pernah main kesini lagi, kalian sedang ada masalah?” Tanya mama, rupanya sadar kalau Josh hanya sedang mengalihkan pembicaraan. “Heran, kok mama bisanya sadar akan hal itu?” gerutu Josh di dalam hatinya. “Hhh… nggak kok Ma, sedang bosan aja kali, lagian Citra kan lagi asik dengan pacar barunya, Ma!” jawab Josh dengan nada yang sengaja dibuat lembut, padahal Josh sudah ingin marah – marah lagi mengingat kelakuan Citra yang sampai detik itu tidak dapat di mengerti oleh Josh. “Kamu yakin, Jo?” Tanya mama masih dengan perasaannya yang penasaran. “Soalnya mama perhatiin kamu juga ngga pernah lagi telpon – telponan dengan Citra, biasanya kan tiada hari tanpa menelpon Citra. Padahal kan rumah kita dengan Citra nggak begitu jauh, tapi kamu nanya tugas ajah harus telpon dia!” Kata–kata mama membuat Josh teringat dengan kenangan–kenangannya dengan Citra, dan itulah yang juga seketika bisa membuat josh naik darah lagi.  “Nyindir nih ma?” sahut Josh.  “Nggak, mama Cuma nggak ingin kamu menyimpan masalah kamu sendiri, ingat Jo masalah itu buat dihadapi, diselesaikan…. kamu bisa cerita sama mama kok!” mama berkata dengan suara yang  lembut. Hati Josh yang awalnya membara – bara bagaikan dipenuhi dengan api unggun, kini seketika meleleh seperti kejatuhan es batu yang sangat banyak. Josh merasa tersentuh dengan perhatian dan pengertian mamanya itu. Mamanya selalu bisa mengerti gelagat Josh kalau sedang punya masalah. Dari dulu mama dan papa Josh selalu menegaskan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan kalau dibicarakan bersama – sama. Josh jadi teringat persahabatannya dengan Citra. Diantara mereka hampir tidak ada rahasia. Apapun yang mereka alami setiap saat, selalu harus diceritakan pada satu sama lain. Josh pernah menyukai seorang gadis di sekolah mereka, dan Citralah orang yang paling berjasa sehingga bisa mempertemukan Josh dengan gadis itu. Namun, hubungan Josh dengan gadis itu tidak bertahan lama, karena pacar Josh sudah terlanjur cemburu melihat kedekatan Josh denga Citra. Josh pun tidak bisa memungkiri kalau dia tidak bisa jauh dengan Citra, begitu juga dengan Citra. Namun semua kenangan itu, berlalu begitu saja semenjak Josh mendengar Citra mempunyai  hubungan khusus dengan salah satu kakak kelas mereka yang bernama Ben. Tentu saja Josh marah sekaligus kecewa. Josh langsung menanyakan  hal itu pada Citra dan lebih kecewanya lagi ketika Citra membenarkan hal itu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tanpa sadar sejak tadi Josh hanya melamun saja dan sejak tadi juga mama tengah memperhatikan wajah Josh yang penuh dengan cerita. “Jo, kamu kenapa nak? Kenapa kamu bengong ajah?” mama menghampiri Josh dan mengusap rambutnya. “Iya ma, Jo emang punya masalah dengan Citra sekarang.”  Jo, menjawab pertanyaan mamanya dengan wajah yang nampak sedih sekaligus kecewa. “Citra sudah ngecewain Jo, Ma, dia sudah nggak menghargai Josh lagi sebagai sahabatnya dan lebih parahnya lagi Citra lupa kalo dia sudah melanggar prinsipnya sendiri ma!“ jawab Josh dengan sangat kesal. 
“ Emang ada apa sih sebenarnya Jo?” mama mengusap – usap rambut Jo dengan tangannya.“Dia pacaran dengan orang yang kepercayaannya berbeda dengan kita. Apa dia tidak sadar? Kalau sampai Ayahnya tau Citra pacaran dengan orang yang kepercayaannya beda denga kita, pasti Citra akan dimarah habis – habisan oleh ayahnya, Ma!”
 “Sebagai sahabatnya, apa kamu sudah mengingatkan Citra?”  Tanya mama kepada Josh. “Ngingetin dia?” Aku bukan Cuma mengingatkan dia ma, bahkan sudah ngasih tau sejelas – jelasnya sama dia, dianya aja yang kerras kepala! Dan sekarang aku putusin untuk tidak akan masuk campur lagi dengan kehidupan orang yang namanya Citra itu , Ma!”
            “Ya, nggak boleh gitu nak, bagaimanapun Citra itu sahabatmu dan tidak baik menyimpan kekesalan dalam hati, kamu tahu itu kan?”  kata mama mencoba memadamkan amarah Josh. “Tapi ma, dia keras kepala sekali!” Josh menjawab dengan segala amarah yang ada dalam dirinya. Mama Josh tampak curgia dengan Josh. Apakah luapan kemarahan Josh ini hanya luapan kemarahan dari seorang sahabat atau jangann – jangan Josh mempunyai perasaan yang berlebihan kepada Citra sehingga Josh begitu terlihat cemburu. “Josh, mama mau tanya sama kamu. Emang, harus segitunya marah kamu sama dia?  Josh, mungkin kamu cemburu dengan Citra?” tanya mama kepada Josh dengan nada yang penuh dengan kecurigaan. Tanpa sadar Josh menjawab pertanyaan mamanya dengan sangat cepat dan tanpa berpikir panjang lagi. “ Iya Ma, Iya. Aku cemburu dengan semua yang terjadi pada Citra sekarang! Apa dia tidak pernah tau perasaanku sama dia selama ini!” mendengar perkataan Josh barusan mama langsung bisa menangkap apa maksud kemarahan Josh selama ini kepada Citra. Ternyata Josh marah kepada Citra bukan hanya karena Citra pacaran dengan orang yang berbeda kepercayaan dengan mereka tetapi karena ada faktor lain. Josh suka sama Citra! Itu dia jawabannya. “Josh, benar dugaan mama. Kamu suka sama Citra!” kata mama berharap Josh akan menyadari perasaanya itu.
“Ah, mama ada – ada saja. Itu tidak mungkin terjadi. Sudahlah ma, Josh mau buat tugas dulu yah.” Josh dengan gayanya yang salah tingkah mencoba memutuskan pembicaraanya dengan mama.
Ting Tonng….
            Mama hampir saja mau menanggapi perkataan Josh tapi bunyi bel pintu terdengar. Serta merta mama Josh berdiri dan berkata “Pokonya mama anggap kamu sudah cukup dewasa , Jo. Cuma kamu yang tau apa isi hati kamu sekarang ini. Mama Cuma bisa mengingatkan kamu dan ingat belajarlah untuk menghadapi masalah serta tidak membiarkannya berlarut – larut. Dan satu lagi Jo, kamu cowo. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan orang yang kamu sayangi.” Kata mama tegas sembari keluar dari kamar Josh.
            Besoknya Tasya , teman satu persekutuan Josh dan Citra, juga menanyakan hal yang sama.  “ Jo, sini deh aku pengen nanyain sesuatu sama kamu.”
            “Ada apa Sya, kok kayak mau ngobrolin hal serius saja” mereka berjalan menuju kantin depan sekolah. “Mmm… tapi kamu jangan marah yah Jo?” tanya Tasya agak sedikit kaku.
            “Marah? Kenapa harus marah? Sudah, nanya ajah. Kamu mau nanya apa memangnya Sya?” tegas Josh.
            “Mmm…mmm… aku dengar – dengar nih katanya  kamu lagi marahan sama Citra?” Josh terdiam sebentar mendengar pertanyaan dari Tasya. “Kita emang nggak sekelas Jo, tapi bukan berarti aku nggak tahu perkembangan temanku sendiri, bukannya usil tapi aku cuma pengen tahu kebenarannya, nggak cuma dengar gitu – gitu ajah” lanjut Tasya yang melihat Josh hanya diam sambil membolak – balik daftar menu yang terletak di meja kantin.
            “ Nggak tahu deh Sya, aku lagi be – te berat nih sama Citra, kesel sama sikapnya.” Akhirnya Josh memutuskan untuk terus terang pada Tasya. Lagi pula Tasya adalah teman satu persektuan Josh dan Tasya termasuk orang yang dekat denga Josh dan Citra.
            “Kesel kenapa Jo? Nggak baik loh nyimpen kekesalan lama–lama, itu bisa merusak hati kamu dan tiba – tiba kamu sudah jadi penunggu rumah sakit haha….” Lanjut Tasya mencoba bercanda. “Kamu nggak tau sih Sya apa yang sudah terjadi, kebodohan yang sudah di lakukan, iya kan? Makanyya kamu enak – enakan ngomong seperti itu!” seru Josh sedikit emosional. “Kata siapa aku nggak tau Jo?” jawab Tasya kalem. “Hah?! Jadi kamu sudah tahu?” tanya Josh tak percaya, kok bisa – bisanya sih Tasya tenang – tenang saja.
            “Iya, mengenai hubungannya denga Ben kan? Aku tahu kok!” lanjut Tasya lagi dengan mimik yang masih sama. “Kamu tahu? Dan Cuma diam saja? Wah, kamu lebih parah!” seru Josh lagi semakin marah melihat Tasya yang seakan – akan tidak perduli.
            “Kamu pasti mengira aku nggak peduli kan? Kamu pikir aku biasa – biasa saja waktu mendengar kalau mereka sudah jadian? Kamu salah Jo. Aku cuma berusaha berpikir kalau dengan marah – marah dan langsung menghakimi dia, itu nggak akan menyelesaikan masalah, tahu sendiri kan kalau orang lagi kasmaran!” jawab Tasya sambil tersenyum.
            Josh tercekat, dipikirannya langsung terbayang waktu dia marah – marah di depan Citra tanpa berusaha memahami apa yang Citra pikirkan. Josh bahkan tidak ingin mendengar alasan dari Citra. Mengingat hal itu, Josh lantas tertunduk lesu.
            “Aku sudah ngomong sama Citra, memang dia tetap bersikeras untuk melanjutkan hubungannya denga Ben, tapi setidaknya kamu tahu kan hubungan orang tuanya yang lagi retak, sementara Citra itu sama dengan kamu, dengan aku, dia masih butuh perhatian dan yahh… dia dapatkan itu dari Ben. Pertama – tamanya aku kesal juga kok Jo, tapi kemudian setelah aku pikir – pikir lagi dan ketika aku mencoba menempatkan diriku dalam posisi Citra, akhirnya aku bisa mengerti, tapi bukan berarti aku menerima keputusannya itu loh!”  lanjut Tasya yang  tampaknya membuat Josh berpikir lebih panjang lagi. “Yang penting tetap berdoa untuk dia Jo, ingat nggak ada yang mustahil kan? Citra salah, karena dia mencari perhatian pada orang yang tidak tepat, tapi kita juga salah kalau kita sebagai sahabatnya nyerah gituh ajah dan nggak peduli sama dia. Tapi aku percaya kok kamu masih peduli sama Citra. Kamu masih sahabatnya kan?”
            Sesampainya di rumah pun pertanyaan Tasya tadi masih terngiang – ngiang dalam telinga Josh. “Apa iya, aku masih sahabatnya Citra?” Apa pantas sahabat memiliki perasaan lebih terhadap sahabatnya? Ah…Josh! Ada apa denganmu? Aku tidak boleh mempunyai perasaan yang lebih kepada Citra, itu hanya akan lebih mempersulit keadaan saja.” Josh nampaknya kebingungan dengan perasaannya sendiri dan akhirnya memutuskan untuk menghilangkan saja perasaannya itu terhadap Citra.
            Besoknya Josh nggak bisa konsentrasi pada  mata pelajaran Matematika sampai – sampai dia lupa mencatat, padahal pak Reza lebih banyak mengambil bahan ujian dari buku catatan, di kepalanya Josh masih mengingat – ingat pertanyaan Tasya, kamu masih sahabatnya kan…?
            Bel berbunyi, tanda pelajaran matematika telah usai. Dan itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri buat anak – anak kels XII IPA 1 karena sudah terbebas dari pelajaran Pak Reza yang bikin mereka nggak bisa nafas legah.
            “Dan, pinjam buku catatanmu dong, aku tadi nggak mencatat nih, besok aku balikin deh!” kata Josh yang langsung mengambil buku Daniel yang ada di meja dan langsung memasukannya didalam tas tanpa menunggu jawaban dari Daniel karena dia sedang sibuk ngobrol dengan cewe gebetannya sih Lani. Josh pun bergegas keluar kelas, sepintas Josh mendengar Daniel memanggil. “Ah, paling juga pesan jangan lupa ngembaliin” pikir Josh sambil terus melangkah pulang.

            Setelah makan siang Josh memutuskan untuk menyalin catatan tadi sebelum rasa kantuk menyerang. Josh mengambil buku itu dari dalam tasnya dan kaget ketika melihat nama di sampul buku itu. Ternyata itu bukunya Citra.
            Sebenarrnya Josh masih sedikit kesal dengan Citra, tapi membayangkan tampang pak Reza yang lumayan menyeramkan Josh terpaksa menyalin dari bukunya Citra, apalagi membayangkan soal – soal beliau yang tidak kalah seramnya itu. Setelah mencatat beberapa lembar iseng Josh membuka halaman belakang dari bukuya Citra dan mata Josh tertumbuk pada tulisan pendek yang ada di lembar belakang itu.


Text Box: Josh, maafin aku dengan perbuatanku sekarang ini yang udah buat Tuhan, kamu dan orang – orang yang sayang sama aku jadi sedih. Aku tau kamu marah sama aku, tapi aku tau kamu marah karena kamu sayang sama aku sebagai sahabatmu. Makasih Jo, udah mau jadi sahabatku. Kamu akan tetap ada disini, di hatiku sebagai sahabat terbaikku. Aku rindu kamu yang lama Josh!
 

             

           
            Air mata Josh seketika mengalir perlahan. Josh terharu membaca tulisan Citra. Josh mulai terpikir, “mungkin memang benar apa yang dikatakan Tasya kalau Citra sama dengan aku dan teman – teman yang lainnya yang masih membutuhkan perhatian. Mungkin inilah saatnya persahabatan kita diuji, apakah kita benar – benar menjadi sahabat bagi yang lain atau hanya sekedar teman. Aku yang telah mengaku menjadi seorang sahabat, bahkan tidak lebih baik dari Citra. Aku tidak ada justru disaat Citra membutuhkanku sebagai sahabatnya, bukan sebagai hakim.”
            Josh tersenyum dan tidak sabar menunngu hari esok untuk menjadi sahabat bagi Citra. Sebelum tidur Josh berdoa untuk keluarganya dan untuk Citra.
            Keesokan harinya, Josh bergegas masuk ke kelas “Hh.. masih sepi..” gumamnya. Tapi Josh menangkap bayangan Citra yang sedang duduk tertunduk lesu di bangku paling belakang. Sekilas sepertinya dia sedang membaca, tapi Josh tahu pasti pikirannya tidak di situ.
            “Hai, non!” Josh menyapa Citra sambil tersenyum kepada Citra. “Baca apaan tuh?’ tanya Josh dengan kikuk. “E…e…. nggak kok nggak baca apa – apa. Hai… Jo apa kabar?“ Citra terlihat salah tingkah, tapi wajahnya sudah tidak semendung tadi.
            “Garing ah pertanyaannya, aku baik – baik saja kok Cit. Bagaiman denganmu ?” Josh balas bertanya sambil duduk disebelah Citra. “Loh, katanya garing? Kok nanya balik?” mendengar perkataan Citra mereka berdua pun tertawa bersama.
            Josh memulai pembicaraan yang serius, “aku minta maaf, Cit, kemaren – kemaren udah so’ menghakimi kamu, padahalkan menghakimi itu haknya Tuhan ya?”
            “Iya dan pak hakim hehe… Udahlah Jo, aku tahu kok itu kan karena kamu peduli sama aku, kalau nggak buat apa coba kamu ngelarang – ngelarang aku” sambut Citra tersenyum.
            “Pokoknya maafin aku ya Cit?” pinta Josh sekali lagi. “Iyalah Jo, kamu kan sahabatku.”
            “Oh, iya.. masalah Ben..” sambungnya lagi. “Sudahlah Cit, nggak usah diomongin sekarang!” Josh memotong perkataan Citra.
            “Nggak kok. Aku Cuma mau bilang kalau aku sudah nggak ada hubungan apa – apa dengan Ben.”
            “Hah! Yang bener Cit?” tanya Josh yang masih tidak percaya. “Iya…buat apa bohong!” jawab Citra mantap dengan wajah yang berseri – seri. ”Sama seperti hidup mempunyai pilihan, dan aku lebih memilih Tuhan dan sahabatku dari pada memilih sesuatu yang tidak penting dan bertentangan pula dengan prinsipku sendiri!” sambung Citra dengan tegas.
            Lagi – lagi Josh hanya bisa terbengong-bengong. Belum berapa lama mereka perang dingin tapi Citra yang sudah menjelma menjadi sosok yang bijaksana.
            “Iya, sahabat – sahabatku. Tuhan, kamu dan orang – orang yang aku sayangi. Kalian semua terlalu berharga untuk aku tinggalkan hanya demi suatu kenikmatan yang semu.”
            Josh hanya bisa tersenyum gembira mendengar perkataan yang sangat dewasa dari seorang Citra yang selama ini bersikap kekanak – kanakan.
            “Eh, udah dong Jo, kamu bengong ajah dari tadi.” Kata Citra sambil menyadarkan Jo. “hehe… iya iya. Habisnya kamu bicaranya sudah seperti orang tua saja. Baru kali ini aku dengar kamu berkata – kata dengan dewasa. Dasar, Citra…Citra!” Jo menanggapi dengan bercanda. “Jadi, kita sahabatan lagi kan?” tanya Citra sambil mengulurkan jari kelingking kananya. “ Iyalah, kita akan selalu menjadi sahabat Citra kecil!” jawab Josh sambil mengulurkan jari kelingkingnya juga.
            Bel masuk berbunyi. Teman –teman sekelas mereka berhamburan masuk kelas. Tasya tersenyum di depan pintu kelas meraka dan bergegas pergi ketika ibu Mita hendak memasuki kelasnya.
            “Oh iya, sejak kapan kamu pandai menulis kata – kata yang ada di halaman belakang bukumu itu?” tanya Josh dengan mimik penasaran.
            “Hmm… sejak… sejak… persahabatan kita renggang” jawab Citra dengan terseyum malu.
            “Oh iya kamu udah siapkan? Hari ini kan ada kuis dari Pak Reza. Saat itu juga Pak Reza masuk ke kelas sambil membawa map soal untuk kuis.
            “Uups… aku sih siap ajah, tapi kayaknya ada yang belum siap nih Cit! “seru Josh sambil melirik Daniel yang langsung panik ketika melihat pak Reza mengumumkan kembali kalau hari ini ada kuis.
            “Maksudmu?” tanya Citra kebingungan. “Tuh liat si Daniel…” celetuk Josh dengan senyum sambil mengulurkan catatan Matematika Citra. “Yah ampun Jo…. Ini kan catatanku yang dipinjam Daniel Selasa lalu? Kok ada sama kamu sih Jo?”
            “Ssst….. jangan bilang – bilang ya” pinta Josh kepada Citra. “kamu sendiri sudah siap ikut kuis dari pak Reza?”
            “Aduh… Jo kamu kayak nggak tau aku ajah. Aku kan bisa menulis sambil menghafal. Hehe…” jawab Citra sambil tertawa kecil. Mereka berdua pun tertawa kecil sambil berjaga – jaga mengawasi pandangan pak Reza jangan sampai melihat mereka yang sedang tertawa. Akhirnya, kuis di mulai.
            Sulit untuk memulai suatu persahabatan dan lebih sulit lagi untuk mempertahankannya. Tapi sesulit apapun itu tidak akan pernah tahu sampai kita berani untuk memulainya. Jadi, kenapa tidak?

-SELESAI-