Untuk Apa Sahabat Itu ?
“ Terserah kamu deh!” Itulah kalimat yang diucapkan
Josh ketika Citra teman baiknya bersikeras untuk tetap melanjutkan hubungannya
dengan Ben yang notabene tidak seiman dengan mereka. Josh yang adalah teman
baik Citra, merasa kesal melihat kekeras – kepalaann Citra sekalligus kecewa
dengan tindakan Citra. Kenapa Citra tetap melakukan hal tersebut di saat dia
sudah mengerti tentang firman Tuhan.
Sejak saat
itu, Josh tidak pernah lagi bersama – sama dengan Citra. Kalau biasanya Josh
repot-repot memutar balik untuk menjemput Citra, sekarang Josh tidak perlu
repot - repot lagi untuk memutar balik menjemput Citra. Kalau biasanya dimana
ada Josh disitu ada Citra, sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Di kantin
pun Josh berpura – pura tidak melihat Citra, yang sekarang semakin dekat saja dengan Ben. Teman – teman
mereka bukannya tidak menyadari hal itu, tetapi mungkin memilih untuk tidak ikut campur dengan
masalah mereka berdua. Orang tua Josh terutama tante Sintha, Mama dari Josh
juga heran dengan keadaan Josh saat ini dan belakangan ini bertanya “Jo, Citra
mana? Kenapa tidak pernah main di rumah kita lagi? Kemarin mamanya Citra juga nanya
ke mama, kenapa kamu tidak pernah lagi main kerumahnya Citra?” Pertanyaan – pertanyaan itu yang membuat Josh
kebingungan untuk menjawab. Josh
bingung untuk menjawab semua pertanyaan mamanya. Josh berpura – pura memainkan
game yang ada pada laptopnya agar tidak perlu menjawab pertanyaan mamanya.
Namun , mama tidak membiarkan Josh begitu saja. Mama tau , pasti ada sesuatu
yang terjadi antara Josh dan Citra. “Josh!” seru mama memperkeras suaranya. “Oh
iya, mama masak apa hari ini? Josh udah
kangen nih sama masakan buatan mama?” Tanya Josh mencoba mengalihkan
pembicaraan. “ Josh, kamu ini, bukannya
tadi mama baru masakin makanan kesukaan kamu. Kenapa sekarang udah minta lagi?”
sahut mama dengan nada kebingungan. Josh terdiam mendengar perkataan mamanya. Josh
kebingungan harus berkata apa lagi untuk menghentikan pertanyaan – pertanyaan
mamanya mengenai Citra.
“
Josh, mama nanya kenapa Citra belakangan ini ngggak pernah main kesini lagi,
kalian sedang ada masalah?” Tanya mama, rupanya sadar kalau Josh hanya sedang
mengalihkan pembicaraan. “Heran, kok mama bisanya sadar akan hal itu?” gerutu Josh
di dalam hatinya. “Hhh… nggak kok Ma, sedang bosan aja kali, lagian Citra kan
lagi asik dengan pacar barunya, Ma!” jawab Josh dengan nada yang sengaja dibuat
lembut, padahal Josh sudah ingin marah – marah lagi mengingat kelakuan Citra
yang sampai detik itu tidak dapat di mengerti oleh Josh. “Kamu yakin, Jo?”
Tanya mama masih dengan perasaannya yang penasaran. “Soalnya mama perhatiin
kamu juga ngga pernah lagi telpon – telponan dengan Citra, biasanya kan tiada
hari tanpa menelpon Citra. Padahal kan rumah kita dengan Citra nggak begitu
jauh, tapi kamu nanya tugas ajah harus telpon dia!” Kata–kata mama membuat Josh
teringat dengan kenangan–kenangannya dengan Citra, dan itulah yang juga
seketika bisa membuat josh naik darah lagi.
“Nyindir nih ma?” sahut Josh. “Nggak,
mama Cuma nggak ingin kamu menyimpan masalah kamu sendiri, ingat Jo masalah itu
buat dihadapi, diselesaikan…. kamu bisa cerita sama mama kok!” mama berkata
dengan suara yang lembut. Hati Josh yang
awalnya membara – bara bagaikan dipenuhi dengan api unggun, kini seketika
meleleh seperti kejatuhan es batu yang sangat banyak. Josh merasa tersentuh
dengan perhatian dan pengertian mamanya itu. Mamanya selalu bisa mengerti
gelagat Josh kalau sedang punya masalah. Dari dulu mama dan papa Josh selalu
menegaskan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan kalau dibicarakan bersama –
sama. Josh jadi teringat persahabatannya dengan Citra. Diantara mereka hampir
tidak ada rahasia. Apapun yang mereka alami setiap saat, selalu harus
diceritakan pada satu sama lain. Josh pernah menyukai seorang gadis di sekolah
mereka, dan Citralah orang yang paling berjasa sehingga bisa mempertemukan Josh
dengan gadis itu. Namun, hubungan Josh dengan gadis itu tidak bertahan lama,
karena pacar Josh sudah terlanjur cemburu melihat kedekatan Josh denga Citra.
Josh pun tidak bisa memungkiri kalau dia tidak bisa jauh dengan Citra, begitu
juga dengan Citra. Namun semua kenangan itu, berlalu begitu saja semenjak Josh
mendengar Citra mempunyai hubungan
khusus dengan salah satu kakak kelas mereka yang bernama Ben. Tentu saja Josh
marah sekaligus kecewa. Josh langsung menanyakan hal itu pada Citra dan lebih kecewanya lagi
ketika Citra membenarkan hal itu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tanpa sadar
sejak tadi Josh hanya melamun saja dan sejak tadi juga mama tengah
memperhatikan wajah Josh yang penuh dengan cerita. “Jo, kamu kenapa nak? Kenapa
kamu bengong ajah?” mama menghampiri Josh dan mengusap rambutnya. “Iya ma, Jo
emang punya masalah dengan Citra sekarang.” Jo, menjawab pertanyaan mamanya dengan wajah
yang nampak sedih sekaligus kecewa. “Citra sudah ngecewain Jo, Ma, dia sudah
nggak menghargai Josh lagi sebagai sahabatnya dan lebih parahnya lagi Citra
lupa kalo dia sudah melanggar prinsipnya sendiri ma!“ jawab Josh dengan sangat
kesal.
“ Emang
ada apa sih sebenarnya Jo?” mama mengusap – usap rambut Jo dengan
tangannya.“Dia pacaran dengan orang yang kepercayaannya berbeda dengan kita.
Apa dia tidak sadar? Kalau sampai Ayahnya tau Citra pacaran dengan orang yang
kepercayaannya beda denga kita, pasti Citra akan dimarah habis – habisan oleh
ayahnya, Ma!”
“Sebagai sahabatnya, apa kamu sudah
mengingatkan Citra?” Tanya mama kepada
Josh. “Ngingetin dia?” Aku bukan Cuma mengingatkan dia ma, bahkan sudah ngasih
tau sejelas – jelasnya sama dia, dianya aja yang kerras kepala! Dan sekarang
aku putusin untuk tidak akan masuk campur lagi dengan kehidupan orang yang
namanya Citra itu , Ma!”
“Ya, nggak boleh gitu nak,
bagaimanapun Citra itu sahabatmu dan tidak baik menyimpan kekesalan dalam hati,
kamu tahu itu kan?” kata mama mencoba
memadamkan amarah Josh. “Tapi ma, dia keras kepala sekali!” Josh menjawab
dengan segala amarah yang ada dalam dirinya. Mama Josh tampak curgia dengan
Josh. Apakah luapan kemarahan Josh ini hanya luapan kemarahan dari seorang
sahabat atau jangann – jangan Josh mempunyai perasaan yang berlebihan kepada
Citra sehingga Josh begitu terlihat cemburu. “Josh, mama mau tanya sama kamu.
Emang, harus segitunya marah kamu sama dia?
Josh, mungkin kamu cemburu dengan Citra?” tanya mama kepada Josh dengan
nada yang penuh dengan kecurigaan. Tanpa sadar Josh menjawab pertanyaan mamanya
dengan sangat cepat dan tanpa berpikir panjang lagi. “ Iya Ma, Iya. Aku cemburu
dengan semua yang terjadi pada Citra sekarang! Apa dia tidak pernah tau
perasaanku sama dia selama ini!” mendengar perkataan Josh barusan mama langsung
bisa menangkap apa maksud kemarahan Josh selama ini kepada Citra. Ternyata Josh
marah kepada Citra bukan hanya karena Citra pacaran dengan orang yang berbeda
kepercayaan dengan mereka tetapi karena ada faktor lain. Josh suka sama Citra!
Itu dia jawabannya. “Josh, benar dugaan mama. Kamu suka sama Citra!” kata mama
berharap Josh akan menyadari perasaanya itu.
“Ah, mama
ada – ada saja. Itu tidak mungkin terjadi. Sudahlah ma, Josh mau buat tugas
dulu yah.” Josh dengan gayanya yang salah tingkah mencoba memutuskan
pembicaraanya dengan mama.
Ting Tonng….
Mama hampir saja mau menanggapi
perkataan Josh tapi bunyi bel pintu terdengar. Serta merta mama Josh berdiri
dan berkata “Pokonya mama anggap kamu sudah cukup dewasa , Jo. Cuma kamu yang
tau apa isi hati kamu sekarang ini. Mama Cuma bisa mengingatkan kamu dan ingat
belajarlah untuk menghadapi masalah serta tidak membiarkannya berlarut – larut.
Dan satu lagi Jo, kamu cowo. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk
mendapatkan orang yang kamu sayangi.” Kata mama tegas sembari keluar dari kamar
Josh.
Besoknya Tasya , teman satu
persekutuan Josh dan Citra, juga menanyakan hal yang sama. “ Jo, sini deh aku pengen nanyain sesuatu sama
kamu.”
“Ada apa Sya, kok kayak mau
ngobrolin hal serius saja” mereka berjalan menuju kantin depan sekolah. “Mmm…
tapi kamu jangan marah yah Jo?” tanya Tasya agak sedikit kaku.
“Marah? Kenapa harus marah? Sudah,
nanya ajah. Kamu mau nanya apa memangnya Sya?” tegas Josh.
“Mmm…mmm… aku dengar – dengar nih
katanya kamu lagi marahan sama Citra?”
Josh terdiam sebentar mendengar pertanyaan dari Tasya. “Kita emang nggak
sekelas Jo, tapi bukan berarti aku nggak tahu perkembangan temanku sendiri,
bukannya usil tapi aku cuma pengen tahu kebenarannya, nggak cuma dengar gitu –
gitu ajah” lanjut Tasya yang melihat Josh hanya diam sambil membolak – balik
daftar menu yang terletak di meja kantin.
“ Nggak tahu deh Sya, aku lagi be –
te berat nih sama Citra, kesel sama sikapnya.” Akhirnya Josh memutuskan untuk
terus terang pada Tasya. Lagi pula Tasya adalah teman satu persektuan Josh dan
Tasya termasuk orang yang dekat denga Josh dan Citra.
“Kesel kenapa Jo? Nggak baik loh
nyimpen kekesalan lama–lama, itu bisa merusak hati kamu dan tiba – tiba kamu
sudah jadi penunggu rumah sakit haha….” Lanjut Tasya mencoba bercanda. “Kamu
nggak tau sih Sya apa yang sudah terjadi, kebodohan yang sudah di lakukan, iya
kan? Makanyya kamu enak – enakan ngomong seperti itu!” seru Josh sedikit
emosional. “Kata siapa aku nggak tau Jo?” jawab Tasya kalem. “Hah?! Jadi kamu
sudah tahu?” tanya Josh tak percaya, kok bisa – bisanya sih Tasya tenang –
tenang saja.
“Iya, mengenai hubungannya denga Ben
kan? Aku tahu kok!” lanjut Tasya lagi dengan mimik yang masih sama. “Kamu tahu?
Dan Cuma diam saja? Wah, kamu lebih parah!” seru Josh lagi semakin marah
melihat Tasya yang seakan – akan tidak perduli.
“Kamu pasti mengira aku nggak peduli
kan? Kamu pikir aku biasa – biasa saja waktu mendengar kalau mereka sudah
jadian? Kamu salah Jo. Aku cuma berusaha berpikir kalau dengan marah – marah
dan langsung menghakimi dia, itu nggak akan menyelesaikan masalah, tahu sendiri
kan kalau orang lagi kasmaran!” jawab Tasya sambil tersenyum.
Josh tercekat, dipikirannya langsung
terbayang waktu dia marah – marah di depan Citra tanpa berusaha memahami apa
yang Citra pikirkan. Josh bahkan tidak ingin mendengar alasan dari Citra.
Mengingat hal itu, Josh lantas tertunduk lesu.
“Aku sudah ngomong sama Citra,
memang dia tetap bersikeras untuk melanjutkan hubungannya denga Ben, tapi
setidaknya kamu tahu kan hubungan orang tuanya yang lagi retak, sementara Citra
itu sama dengan kamu, dengan aku, dia masih butuh perhatian dan yahh… dia
dapatkan itu dari Ben. Pertama – tamanya aku kesal juga kok Jo, tapi kemudian
setelah aku pikir – pikir lagi dan ketika aku mencoba menempatkan diriku dalam
posisi Citra, akhirnya aku bisa mengerti, tapi bukan berarti aku menerima
keputusannya itu loh!” lanjut Tasya
yang tampaknya membuat Josh berpikir
lebih panjang lagi. “Yang penting tetap berdoa untuk dia Jo, ingat nggak ada
yang mustahil kan? Citra salah, karena dia mencari perhatian pada orang yang
tidak tepat, tapi kita juga salah kalau kita sebagai sahabatnya nyerah gituh
ajah dan nggak peduli sama dia. Tapi aku percaya kok kamu masih peduli sama
Citra. Kamu masih sahabatnya kan?”
Sesampainya di rumah pun pertanyaan
Tasya tadi masih terngiang – ngiang dalam telinga Josh. “Apa iya, aku masih
sahabatnya Citra?” Apa pantas sahabat memiliki perasaan lebih terhadap
sahabatnya? Ah…Josh! Ada apa denganmu? Aku tidak boleh mempunyai perasaan yang
lebih kepada Citra, itu hanya akan lebih mempersulit keadaan saja.” Josh
nampaknya kebingungan dengan perasaannya sendiri dan akhirnya memutuskan untuk
menghilangkan saja perasaannya itu terhadap Citra.
Besoknya Josh nggak bisa konsentrasi
pada mata pelajaran Matematika sampai –
sampai dia lupa mencatat, padahal pak Reza lebih banyak mengambil bahan ujian
dari buku catatan, di kepalanya Josh masih mengingat – ingat pertanyaan Tasya,
kamu masih sahabatnya kan…?
Bel berbunyi, tanda pelajaran
matematika telah usai. Dan itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri buat anak
– anak kels XII IPA 1 karena sudah terbebas dari pelajaran Pak Reza yang bikin
mereka nggak bisa nafas legah.
“Dan, pinjam buku catatanmu dong,
aku tadi nggak mencatat nih, besok aku balikin deh!” kata Josh yang langsung mengambil
buku Daniel yang ada di meja dan langsung memasukannya didalam tas tanpa
menunggu jawaban dari Daniel karena dia sedang sibuk ngobrol dengan cewe
gebetannya sih Lani. Josh pun bergegas keluar kelas, sepintas Josh mendengar
Daniel memanggil. “Ah, paling juga pesan jangan lupa ngembaliin” pikir Josh
sambil terus melangkah pulang.
Setelah makan siang Josh memutuskan
untuk menyalin catatan tadi sebelum rasa kantuk menyerang. Josh mengambil buku
itu dari dalam tasnya dan kaget ketika melihat nama di sampul buku itu. Ternyata
itu bukunya Citra.
Sebenarrnya Josh masih sedikit kesal
dengan Citra, tapi membayangkan tampang pak Reza yang lumayan menyeramkan Josh
terpaksa menyalin dari bukunya Citra, apalagi membayangkan soal – soal beliau
yang tidak kalah seramnya itu. Setelah mencatat beberapa lembar iseng Josh membuka
halaman belakang dari bukuya Citra dan mata Josh tertumbuk pada tulisan pendek
yang ada di lembar belakang itu.
Air mata Josh seketika mengalir
perlahan. Josh terharu membaca tulisan Citra. Josh mulai terpikir, “mungkin
memang benar apa yang dikatakan Tasya kalau Citra sama dengan aku dan teman –
teman yang lainnya yang masih membutuhkan perhatian. Mungkin inilah saatnya
persahabatan kita diuji, apakah kita benar – benar menjadi sahabat bagi yang
lain atau hanya sekedar teman. Aku yang telah mengaku menjadi seorang sahabat,
bahkan tidak lebih baik dari Citra. Aku tidak ada justru disaat Citra
membutuhkanku sebagai sahabatnya, bukan sebagai hakim.”
Josh tersenyum dan tidak sabar
menunngu hari esok untuk menjadi sahabat bagi Citra. Sebelum tidur Josh berdoa
untuk keluarganya dan untuk Citra.
Keesokan harinya, Josh bergegas
masuk ke kelas “Hh.. masih sepi..” gumamnya. Tapi Josh menangkap bayangan Citra
yang sedang duduk tertunduk lesu di bangku paling belakang. Sekilas sepertinya
dia sedang membaca, tapi Josh tahu pasti pikirannya tidak di situ.
“Hai, non!” Josh menyapa Citra
sambil tersenyum kepada Citra. “Baca apaan tuh?’ tanya Josh dengan kikuk.
“E…e…. nggak kok nggak baca apa – apa. Hai… Jo apa kabar?“ Citra terlihat salah
tingkah, tapi wajahnya sudah tidak semendung tadi.
“Garing ah pertanyaannya, aku baik –
baik saja kok Cit. Bagaiman denganmu ?” Josh balas bertanya sambil duduk
disebelah Citra. “Loh, katanya garing? Kok nanya balik?” mendengar perkataan
Citra mereka berdua pun tertawa bersama.
Josh memulai pembicaraan yang
serius, “aku minta maaf, Cit, kemaren – kemaren udah so’ menghakimi kamu,
padahalkan menghakimi itu haknya Tuhan ya?”
“Iya dan pak hakim hehe… Udahlah Jo,
aku tahu kok itu kan karena kamu peduli sama aku, kalau nggak buat apa coba
kamu ngelarang – ngelarang aku” sambut Citra tersenyum.
“Pokoknya maafin aku ya Cit?” pinta
Josh sekali lagi. “Iyalah Jo, kamu kan sahabatku.”
“Oh, iya.. masalah Ben..” sambungnya
lagi. “Sudahlah Cit, nggak usah diomongin sekarang!” Josh memotong perkataan
Citra.
“Nggak kok. Aku Cuma mau bilang
kalau aku sudah nggak ada hubungan apa – apa dengan Ben.”
“Hah! Yang bener Cit?” tanya Josh
yang masih tidak percaya. “Iya…buat apa bohong!” jawab Citra mantap dengan
wajah yang berseri – seri. ”Sama seperti hidup mempunyai pilihan, dan aku lebih
memilih Tuhan dan sahabatku dari pada memilih sesuatu yang tidak penting dan
bertentangan pula dengan prinsipku sendiri!” sambung Citra dengan tegas.
Lagi – lagi Josh hanya bisa
terbengong-bengong. Belum berapa lama mereka perang dingin tapi Citra yang
sudah menjelma menjadi sosok yang bijaksana.
“Iya, sahabat – sahabatku. Tuhan,
kamu dan orang – orang yang aku sayangi. Kalian semua terlalu berharga untuk
aku tinggalkan hanya demi suatu kenikmatan yang semu.”
Josh hanya bisa tersenyum gembira
mendengar perkataan yang sangat dewasa dari seorang Citra yang selama ini
bersikap kekanak – kanakan.
“Eh, udah dong Jo, kamu bengong ajah
dari tadi.” Kata Citra sambil menyadarkan Jo. “hehe… iya iya. Habisnya kamu
bicaranya sudah seperti orang tua saja. Baru kali ini aku dengar kamu berkata –
kata dengan dewasa. Dasar, Citra…Citra!” Jo menanggapi dengan bercanda. “Jadi,
kita sahabatan lagi kan?” tanya Citra sambil mengulurkan jari kelingking
kananya. “ Iyalah, kita akan selalu menjadi sahabat Citra kecil!” jawab Josh
sambil mengulurkan jari kelingkingnya juga.
Bel masuk berbunyi. Teman –teman
sekelas mereka berhamburan masuk kelas. Tasya tersenyum di depan pintu kelas
meraka dan bergegas pergi ketika ibu Mita hendak memasuki kelasnya.
“Oh iya, sejak kapan kamu pandai
menulis kata – kata yang ada di halaman belakang bukumu itu?” tanya Josh dengan
mimik penasaran.
“Hmm… sejak… sejak… persahabatan
kita renggang” jawab Citra dengan terseyum malu.
“Oh iya kamu udah siapkan? Hari ini
kan ada kuis dari Pak Reza. Saat itu juga Pak Reza masuk ke kelas sambil
membawa map soal untuk kuis.
“Uups… aku sih siap ajah, tapi
kayaknya ada yang belum siap nih Cit! “seru Josh sambil melirik Daniel yang
langsung panik ketika melihat pak Reza mengumumkan kembali kalau hari ini ada
kuis.
“Maksudmu?” tanya Citra kebingungan.
“Tuh liat si Daniel…” celetuk Josh dengan senyum sambil mengulurkan catatan
Matematika Citra. “Yah ampun Jo…. Ini kan catatanku yang dipinjam Daniel Selasa
lalu? Kok ada sama kamu sih Jo?”
“Ssst….. jangan bilang – bilang ya”
pinta Josh kepada Citra. “kamu sendiri sudah siap ikut kuis dari pak Reza?”
“Aduh… Jo kamu kayak nggak tau aku
ajah. Aku kan bisa menulis sambil menghafal. Hehe…” jawab Citra sambil tertawa
kecil. Mereka berdua pun tertawa kecil sambil berjaga – jaga mengawasi
pandangan pak Reza jangan sampai melihat mereka yang sedang tertawa. Akhirnya,
kuis di mulai.
Sulit untuk memulai suatu
persahabatan dan lebih sulit lagi untuk mempertahankannya. Tapi sesulit apapun
itu tidak akan pernah tahu sampai kita berani untuk memulainya. Jadi, kenapa
tidak?
-SELESAI-