Rabu, 07 November 2012

Cerpen - Untuk Apa Sahabat Itu ?


Untuk Apa Sahabat Itu ?


“ Terserah kamu deh!” Itulah kalimat yang diucapkan Josh ketika Citra teman baiknya bersikeras untuk tetap melanjutkan hubungannya dengan Ben yang notabene tidak seiman dengan mereka. Josh yang adalah teman baik Citra, merasa kesal melihat kekeras – kepalaann Citra sekalligus kecewa dengan tindakan Citra. Kenapa Citra tetap melakukan hal tersebut di saat dia sudah mengerti tentang firman Tuhan.
Sejak saat itu, Josh tidak pernah lagi bersama – sama dengan Citra. Kalau biasanya Josh repot-repot memutar balik untuk menjemput Citra, sekarang Josh tidak perlu repot - repot lagi untuk memutar balik menjemput Citra. Kalau biasanya dimana ada Josh disitu ada Citra, sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Di kantin pun Josh berpura – pura tidak melihat Citra, yang sekarang  semakin dekat saja dengan Ben. Teman – teman mereka bukannya tidak menyadari hal itu, tetapi mungkin  memilih untuk tidak ikut campur dengan masalah mereka berdua. Orang tua Josh terutama tante Sintha, Mama dari Josh juga heran dengan keadaan Josh saat ini dan belakangan ini bertanya “Jo, Citra mana? Kenapa tidak pernah main di rumah kita lagi? Kemarin mamanya Citra juga nanya ke mama, kenapa kamu tidak pernah lagi main kerumahnya Citra?”  Pertanyaan – pertanyaan itu yang membuat Josh kebingungan untuk menjawab.             Josh bingung untuk menjawab semua pertanyaan mamanya. Josh berpura – pura memainkan game yang ada pada laptopnya agar tidak perlu menjawab pertanyaan mamanya. Namun , mama tidak membiarkan Josh begitu saja. Mama tau , pasti ada sesuatu yang terjadi antara Josh dan Citra. “Josh!” seru mama memperkeras suaranya. “Oh iya,  mama masak apa hari ini? Josh udah kangen nih sama masakan buatan mama?” Tanya Josh mencoba mengalihkan pembicaraan.  “ Josh, kamu ini, bukannya tadi mama baru masakin makanan kesukaan kamu. Kenapa sekarang udah minta lagi?” sahut mama dengan nada kebingungan. Josh terdiam mendengar perkataan mamanya. Josh kebingungan harus berkata apa lagi untuk menghentikan pertanyaan – pertanyaan mamanya mengenai Citra.
“ Josh, mama nanya kenapa Citra belakangan ini ngggak pernah main kesini lagi, kalian sedang ada masalah?” Tanya mama, rupanya sadar kalau Josh hanya sedang mengalihkan pembicaraan. “Heran, kok mama bisanya sadar akan hal itu?” gerutu Josh di dalam hatinya. “Hhh… nggak kok Ma, sedang bosan aja kali, lagian Citra kan lagi asik dengan pacar barunya, Ma!” jawab Josh dengan nada yang sengaja dibuat lembut, padahal Josh sudah ingin marah – marah lagi mengingat kelakuan Citra yang sampai detik itu tidak dapat di mengerti oleh Josh. “Kamu yakin, Jo?” Tanya mama masih dengan perasaannya yang penasaran. “Soalnya mama perhatiin kamu juga ngga pernah lagi telpon – telponan dengan Citra, biasanya kan tiada hari tanpa menelpon Citra. Padahal kan rumah kita dengan Citra nggak begitu jauh, tapi kamu nanya tugas ajah harus telpon dia!” Kata–kata mama membuat Josh teringat dengan kenangan–kenangannya dengan Citra, dan itulah yang juga seketika bisa membuat josh naik darah lagi.  “Nyindir nih ma?” sahut Josh.  “Nggak, mama Cuma nggak ingin kamu menyimpan masalah kamu sendiri, ingat Jo masalah itu buat dihadapi, diselesaikan…. kamu bisa cerita sama mama kok!” mama berkata dengan suara yang  lembut. Hati Josh yang awalnya membara – bara bagaikan dipenuhi dengan api unggun, kini seketika meleleh seperti kejatuhan es batu yang sangat banyak. Josh merasa tersentuh dengan perhatian dan pengertian mamanya itu. Mamanya selalu bisa mengerti gelagat Josh kalau sedang punya masalah. Dari dulu mama dan papa Josh selalu menegaskan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan kalau dibicarakan bersama – sama. Josh jadi teringat persahabatannya dengan Citra. Diantara mereka hampir tidak ada rahasia. Apapun yang mereka alami setiap saat, selalu harus diceritakan pada satu sama lain. Josh pernah menyukai seorang gadis di sekolah mereka, dan Citralah orang yang paling berjasa sehingga bisa mempertemukan Josh dengan gadis itu. Namun, hubungan Josh dengan gadis itu tidak bertahan lama, karena pacar Josh sudah terlanjur cemburu melihat kedekatan Josh denga Citra. Josh pun tidak bisa memungkiri kalau dia tidak bisa jauh dengan Citra, begitu juga dengan Citra. Namun semua kenangan itu, berlalu begitu saja semenjak Josh mendengar Citra mempunyai  hubungan khusus dengan salah satu kakak kelas mereka yang bernama Ben. Tentu saja Josh marah sekaligus kecewa. Josh langsung menanyakan  hal itu pada Citra dan lebih kecewanya lagi ketika Citra membenarkan hal itu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tanpa sadar sejak tadi Josh hanya melamun saja dan sejak tadi juga mama tengah memperhatikan wajah Josh yang penuh dengan cerita. “Jo, kamu kenapa nak? Kenapa kamu bengong ajah?” mama menghampiri Josh dan mengusap rambutnya. “Iya ma, Jo emang punya masalah dengan Citra sekarang.”  Jo, menjawab pertanyaan mamanya dengan wajah yang nampak sedih sekaligus kecewa. “Citra sudah ngecewain Jo, Ma, dia sudah nggak menghargai Josh lagi sebagai sahabatnya dan lebih parahnya lagi Citra lupa kalo dia sudah melanggar prinsipnya sendiri ma!“ jawab Josh dengan sangat kesal. 
“ Emang ada apa sih sebenarnya Jo?” mama mengusap – usap rambut Jo dengan tangannya.“Dia pacaran dengan orang yang kepercayaannya berbeda dengan kita. Apa dia tidak sadar? Kalau sampai Ayahnya tau Citra pacaran dengan orang yang kepercayaannya beda denga kita, pasti Citra akan dimarah habis – habisan oleh ayahnya, Ma!”
 “Sebagai sahabatnya, apa kamu sudah mengingatkan Citra?”  Tanya mama kepada Josh. “Ngingetin dia?” Aku bukan Cuma mengingatkan dia ma, bahkan sudah ngasih tau sejelas – jelasnya sama dia, dianya aja yang kerras kepala! Dan sekarang aku putusin untuk tidak akan masuk campur lagi dengan kehidupan orang yang namanya Citra itu , Ma!”
            “Ya, nggak boleh gitu nak, bagaimanapun Citra itu sahabatmu dan tidak baik menyimpan kekesalan dalam hati, kamu tahu itu kan?”  kata mama mencoba memadamkan amarah Josh. “Tapi ma, dia keras kepala sekali!” Josh menjawab dengan segala amarah yang ada dalam dirinya. Mama Josh tampak curgia dengan Josh. Apakah luapan kemarahan Josh ini hanya luapan kemarahan dari seorang sahabat atau jangann – jangan Josh mempunyai perasaan yang berlebihan kepada Citra sehingga Josh begitu terlihat cemburu. “Josh, mama mau tanya sama kamu. Emang, harus segitunya marah kamu sama dia?  Josh, mungkin kamu cemburu dengan Citra?” tanya mama kepada Josh dengan nada yang penuh dengan kecurigaan. Tanpa sadar Josh menjawab pertanyaan mamanya dengan sangat cepat dan tanpa berpikir panjang lagi. “ Iya Ma, Iya. Aku cemburu dengan semua yang terjadi pada Citra sekarang! Apa dia tidak pernah tau perasaanku sama dia selama ini!” mendengar perkataan Josh barusan mama langsung bisa menangkap apa maksud kemarahan Josh selama ini kepada Citra. Ternyata Josh marah kepada Citra bukan hanya karena Citra pacaran dengan orang yang berbeda kepercayaan dengan mereka tetapi karena ada faktor lain. Josh suka sama Citra! Itu dia jawabannya. “Josh, benar dugaan mama. Kamu suka sama Citra!” kata mama berharap Josh akan menyadari perasaanya itu.
“Ah, mama ada – ada saja. Itu tidak mungkin terjadi. Sudahlah ma, Josh mau buat tugas dulu yah.” Josh dengan gayanya yang salah tingkah mencoba memutuskan pembicaraanya dengan mama.
Ting Tonng….
            Mama hampir saja mau menanggapi perkataan Josh tapi bunyi bel pintu terdengar. Serta merta mama Josh berdiri dan berkata “Pokonya mama anggap kamu sudah cukup dewasa , Jo. Cuma kamu yang tau apa isi hati kamu sekarang ini. Mama Cuma bisa mengingatkan kamu dan ingat belajarlah untuk menghadapi masalah serta tidak membiarkannya berlarut – larut. Dan satu lagi Jo, kamu cowo. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan orang yang kamu sayangi.” Kata mama tegas sembari keluar dari kamar Josh.
            Besoknya Tasya , teman satu persekutuan Josh dan Citra, juga menanyakan hal yang sama.  “ Jo, sini deh aku pengen nanyain sesuatu sama kamu.”
            “Ada apa Sya, kok kayak mau ngobrolin hal serius saja” mereka berjalan menuju kantin depan sekolah. “Mmm… tapi kamu jangan marah yah Jo?” tanya Tasya agak sedikit kaku.
            “Marah? Kenapa harus marah? Sudah, nanya ajah. Kamu mau nanya apa memangnya Sya?” tegas Josh.
            “Mmm…mmm… aku dengar – dengar nih katanya  kamu lagi marahan sama Citra?” Josh terdiam sebentar mendengar pertanyaan dari Tasya. “Kita emang nggak sekelas Jo, tapi bukan berarti aku nggak tahu perkembangan temanku sendiri, bukannya usil tapi aku cuma pengen tahu kebenarannya, nggak cuma dengar gitu – gitu ajah” lanjut Tasya yang melihat Josh hanya diam sambil membolak – balik daftar menu yang terletak di meja kantin.
            “ Nggak tahu deh Sya, aku lagi be – te berat nih sama Citra, kesel sama sikapnya.” Akhirnya Josh memutuskan untuk terus terang pada Tasya. Lagi pula Tasya adalah teman satu persektuan Josh dan Tasya termasuk orang yang dekat denga Josh dan Citra.
            “Kesel kenapa Jo? Nggak baik loh nyimpen kekesalan lama–lama, itu bisa merusak hati kamu dan tiba – tiba kamu sudah jadi penunggu rumah sakit haha….” Lanjut Tasya mencoba bercanda. “Kamu nggak tau sih Sya apa yang sudah terjadi, kebodohan yang sudah di lakukan, iya kan? Makanyya kamu enak – enakan ngomong seperti itu!” seru Josh sedikit emosional. “Kata siapa aku nggak tau Jo?” jawab Tasya kalem. “Hah?! Jadi kamu sudah tahu?” tanya Josh tak percaya, kok bisa – bisanya sih Tasya tenang – tenang saja.
            “Iya, mengenai hubungannya denga Ben kan? Aku tahu kok!” lanjut Tasya lagi dengan mimik yang masih sama. “Kamu tahu? Dan Cuma diam saja? Wah, kamu lebih parah!” seru Josh lagi semakin marah melihat Tasya yang seakan – akan tidak perduli.
            “Kamu pasti mengira aku nggak peduli kan? Kamu pikir aku biasa – biasa saja waktu mendengar kalau mereka sudah jadian? Kamu salah Jo. Aku cuma berusaha berpikir kalau dengan marah – marah dan langsung menghakimi dia, itu nggak akan menyelesaikan masalah, tahu sendiri kan kalau orang lagi kasmaran!” jawab Tasya sambil tersenyum.
            Josh tercekat, dipikirannya langsung terbayang waktu dia marah – marah di depan Citra tanpa berusaha memahami apa yang Citra pikirkan. Josh bahkan tidak ingin mendengar alasan dari Citra. Mengingat hal itu, Josh lantas tertunduk lesu.
            “Aku sudah ngomong sama Citra, memang dia tetap bersikeras untuk melanjutkan hubungannya denga Ben, tapi setidaknya kamu tahu kan hubungan orang tuanya yang lagi retak, sementara Citra itu sama dengan kamu, dengan aku, dia masih butuh perhatian dan yahh… dia dapatkan itu dari Ben. Pertama – tamanya aku kesal juga kok Jo, tapi kemudian setelah aku pikir – pikir lagi dan ketika aku mencoba menempatkan diriku dalam posisi Citra, akhirnya aku bisa mengerti, tapi bukan berarti aku menerima keputusannya itu loh!”  lanjut Tasya yang  tampaknya membuat Josh berpikir lebih panjang lagi. “Yang penting tetap berdoa untuk dia Jo, ingat nggak ada yang mustahil kan? Citra salah, karena dia mencari perhatian pada orang yang tidak tepat, tapi kita juga salah kalau kita sebagai sahabatnya nyerah gituh ajah dan nggak peduli sama dia. Tapi aku percaya kok kamu masih peduli sama Citra. Kamu masih sahabatnya kan?”
            Sesampainya di rumah pun pertanyaan Tasya tadi masih terngiang – ngiang dalam telinga Josh. “Apa iya, aku masih sahabatnya Citra?” Apa pantas sahabat memiliki perasaan lebih terhadap sahabatnya? Ah…Josh! Ada apa denganmu? Aku tidak boleh mempunyai perasaan yang lebih kepada Citra, itu hanya akan lebih mempersulit keadaan saja.” Josh nampaknya kebingungan dengan perasaannya sendiri dan akhirnya memutuskan untuk menghilangkan saja perasaannya itu terhadap Citra.
            Besoknya Josh nggak bisa konsentrasi pada  mata pelajaran Matematika sampai – sampai dia lupa mencatat, padahal pak Reza lebih banyak mengambil bahan ujian dari buku catatan, di kepalanya Josh masih mengingat – ingat pertanyaan Tasya, kamu masih sahabatnya kan…?
            Bel berbunyi, tanda pelajaran matematika telah usai. Dan itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri buat anak – anak kels XII IPA 1 karena sudah terbebas dari pelajaran Pak Reza yang bikin mereka nggak bisa nafas legah.
            “Dan, pinjam buku catatanmu dong, aku tadi nggak mencatat nih, besok aku balikin deh!” kata Josh yang langsung mengambil buku Daniel yang ada di meja dan langsung memasukannya didalam tas tanpa menunggu jawaban dari Daniel karena dia sedang sibuk ngobrol dengan cewe gebetannya sih Lani. Josh pun bergegas keluar kelas, sepintas Josh mendengar Daniel memanggil. “Ah, paling juga pesan jangan lupa ngembaliin” pikir Josh sambil terus melangkah pulang.

            Setelah makan siang Josh memutuskan untuk menyalin catatan tadi sebelum rasa kantuk menyerang. Josh mengambil buku itu dari dalam tasnya dan kaget ketika melihat nama di sampul buku itu. Ternyata itu bukunya Citra.
            Sebenarrnya Josh masih sedikit kesal dengan Citra, tapi membayangkan tampang pak Reza yang lumayan menyeramkan Josh terpaksa menyalin dari bukunya Citra, apalagi membayangkan soal – soal beliau yang tidak kalah seramnya itu. Setelah mencatat beberapa lembar iseng Josh membuka halaman belakang dari bukuya Citra dan mata Josh tertumbuk pada tulisan pendek yang ada di lembar belakang itu.


Text Box: Josh, maafin aku dengan perbuatanku sekarang ini yang udah buat Tuhan, kamu dan orang – orang yang sayang sama aku jadi sedih. Aku tau kamu marah sama aku, tapi aku tau kamu marah karena kamu sayang sama aku sebagai sahabatmu. Makasih Jo, udah mau jadi sahabatku. Kamu akan tetap ada disini, di hatiku sebagai sahabat terbaikku. Aku rindu kamu yang lama Josh!
 

             

           
            Air mata Josh seketika mengalir perlahan. Josh terharu membaca tulisan Citra. Josh mulai terpikir, “mungkin memang benar apa yang dikatakan Tasya kalau Citra sama dengan aku dan teman – teman yang lainnya yang masih membutuhkan perhatian. Mungkin inilah saatnya persahabatan kita diuji, apakah kita benar – benar menjadi sahabat bagi yang lain atau hanya sekedar teman. Aku yang telah mengaku menjadi seorang sahabat, bahkan tidak lebih baik dari Citra. Aku tidak ada justru disaat Citra membutuhkanku sebagai sahabatnya, bukan sebagai hakim.”
            Josh tersenyum dan tidak sabar menunngu hari esok untuk menjadi sahabat bagi Citra. Sebelum tidur Josh berdoa untuk keluarganya dan untuk Citra.
            Keesokan harinya, Josh bergegas masuk ke kelas “Hh.. masih sepi..” gumamnya. Tapi Josh menangkap bayangan Citra yang sedang duduk tertunduk lesu di bangku paling belakang. Sekilas sepertinya dia sedang membaca, tapi Josh tahu pasti pikirannya tidak di situ.
            “Hai, non!” Josh menyapa Citra sambil tersenyum kepada Citra. “Baca apaan tuh?’ tanya Josh dengan kikuk. “E…e…. nggak kok nggak baca apa – apa. Hai… Jo apa kabar?“ Citra terlihat salah tingkah, tapi wajahnya sudah tidak semendung tadi.
            “Garing ah pertanyaannya, aku baik – baik saja kok Cit. Bagaiman denganmu ?” Josh balas bertanya sambil duduk disebelah Citra. “Loh, katanya garing? Kok nanya balik?” mendengar perkataan Citra mereka berdua pun tertawa bersama.
            Josh memulai pembicaraan yang serius, “aku minta maaf, Cit, kemaren – kemaren udah so’ menghakimi kamu, padahalkan menghakimi itu haknya Tuhan ya?”
            “Iya dan pak hakim hehe… Udahlah Jo, aku tahu kok itu kan karena kamu peduli sama aku, kalau nggak buat apa coba kamu ngelarang – ngelarang aku” sambut Citra tersenyum.
            “Pokoknya maafin aku ya Cit?” pinta Josh sekali lagi. “Iyalah Jo, kamu kan sahabatku.”
            “Oh, iya.. masalah Ben..” sambungnya lagi. “Sudahlah Cit, nggak usah diomongin sekarang!” Josh memotong perkataan Citra.
            “Nggak kok. Aku Cuma mau bilang kalau aku sudah nggak ada hubungan apa – apa dengan Ben.”
            “Hah! Yang bener Cit?” tanya Josh yang masih tidak percaya. “Iya…buat apa bohong!” jawab Citra mantap dengan wajah yang berseri – seri. ”Sama seperti hidup mempunyai pilihan, dan aku lebih memilih Tuhan dan sahabatku dari pada memilih sesuatu yang tidak penting dan bertentangan pula dengan prinsipku sendiri!” sambung Citra dengan tegas.
            Lagi – lagi Josh hanya bisa terbengong-bengong. Belum berapa lama mereka perang dingin tapi Citra yang sudah menjelma menjadi sosok yang bijaksana.
            “Iya, sahabat – sahabatku. Tuhan, kamu dan orang – orang yang aku sayangi. Kalian semua terlalu berharga untuk aku tinggalkan hanya demi suatu kenikmatan yang semu.”
            Josh hanya bisa tersenyum gembira mendengar perkataan yang sangat dewasa dari seorang Citra yang selama ini bersikap kekanak – kanakan.
            “Eh, udah dong Jo, kamu bengong ajah dari tadi.” Kata Citra sambil menyadarkan Jo. “hehe… iya iya. Habisnya kamu bicaranya sudah seperti orang tua saja. Baru kali ini aku dengar kamu berkata – kata dengan dewasa. Dasar, Citra…Citra!” Jo menanggapi dengan bercanda. “Jadi, kita sahabatan lagi kan?” tanya Citra sambil mengulurkan jari kelingking kananya. “ Iyalah, kita akan selalu menjadi sahabat Citra kecil!” jawab Josh sambil mengulurkan jari kelingkingnya juga.
            Bel masuk berbunyi. Teman –teman sekelas mereka berhamburan masuk kelas. Tasya tersenyum di depan pintu kelas meraka dan bergegas pergi ketika ibu Mita hendak memasuki kelasnya.
            “Oh iya, sejak kapan kamu pandai menulis kata – kata yang ada di halaman belakang bukumu itu?” tanya Josh dengan mimik penasaran.
            “Hmm… sejak… sejak… persahabatan kita renggang” jawab Citra dengan terseyum malu.
            “Oh iya kamu udah siapkan? Hari ini kan ada kuis dari Pak Reza. Saat itu juga Pak Reza masuk ke kelas sambil membawa map soal untuk kuis.
            “Uups… aku sih siap ajah, tapi kayaknya ada yang belum siap nih Cit! “seru Josh sambil melirik Daniel yang langsung panik ketika melihat pak Reza mengumumkan kembali kalau hari ini ada kuis.
            “Maksudmu?” tanya Citra kebingungan. “Tuh liat si Daniel…” celetuk Josh dengan senyum sambil mengulurkan catatan Matematika Citra. “Yah ampun Jo…. Ini kan catatanku yang dipinjam Daniel Selasa lalu? Kok ada sama kamu sih Jo?”
            “Ssst….. jangan bilang – bilang ya” pinta Josh kepada Citra. “kamu sendiri sudah siap ikut kuis dari pak Reza?”
            “Aduh… Jo kamu kayak nggak tau aku ajah. Aku kan bisa menulis sambil menghafal. Hehe…” jawab Citra sambil tertawa kecil. Mereka berdua pun tertawa kecil sambil berjaga – jaga mengawasi pandangan pak Reza jangan sampai melihat mereka yang sedang tertawa. Akhirnya, kuis di mulai.
            Sulit untuk memulai suatu persahabatan dan lebih sulit lagi untuk mempertahankannya. Tapi sesulit apapun itu tidak akan pernah tahu sampai kita berani untuk memulainya. Jadi, kenapa tidak?

-SELESAI-
















           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar